Wednesday, December 31, 2025

Apa itu Kemajuan?

Buku Ross Douthat bertajuk The Decadent Society merupakan kritik sosial yang menyoal masyarakat modern. Mereka mungkin terlihat sibuk dan dinamis, tetapi sebenarnya terjebak dalam siklus yang tidak menghasilkan kemajuan substantif.

Dekadensi, sebagaimana diartikulasikan oleh Douthat, bukan sekadar tentang kemerosotan moral atau estetika. Malah, ia mencakup kerangka kerja yang lebih luas yang meliputi stagnasi ekonomi, kelangkaan inovasi budaya, penurunan demografis, dan kelumpuhan politik.
Untuk tahun 2026, kita mungkin telah mencanangkan resolusi atau azam tahun baru agar tidak terperangkap pada pengulangan. Jadi, apa itu berkemajuan? Apakah kemunduran itu buruk? Bukankah apa yang disebut maju kadang tidak lebih daripada bangunan menjulang tinggi, jalan-jalan layang, dan hiburan yang berlimpah?
Padahal, alam dalam bentuk aslinya dan hewan yang menyerikan pagi dengan kicauan dan kokok itu mendatangkan ketentraman. Apakah kembali ke masa lalu itu dekaden? Apakah kesenian itu persembahan dengan koreografi dan panggung megah? Lebih jauh, adalah biaya pemilu yang mahal itu telah melahirkan politik kebenaran? Tidak. Artinya, kita mundur.

 

Tuesday, December 30, 2025

Pelatihan Opini

Opini itu anggitan yang dihasilkan oleh pelari jarak pendek, yang harus segera berlari cepat karena tenggat. Namun, untuk melakukannya seseorang harus berlatih karena ia tetap dilakukan secara saksama, tidak terburu-buru.
Semisal, saya ingin menulis Anwar, Najib, dan Mahathir, tentu saya telah mengantongi teori dan data terkait dengan perseteruaan dalam diam dan bunyi dari ketiganya di ruang publik. Kita tahu bahwa politisi itu bisa bercengkerama, bertengkar, dan berkompromi.
Di luar dugaan, Najib tidak bisa menikmati hukuman di rumah, malah ia harus menanggung nasib, hakim memutuskan bersalah atas dakwaan, karena derma dari raja itu palsu. Apa tabir kemudian terbuka? Politik selalu menyisakan percakapan di balik layar.
Opini memang bersifat personal, tetapi ia berdiri di atas pijakan pengetahuan yang kokoh, yakni isu itu diurai dalam kerangka teoretis dan solutif. Sampai ketemuan di kelas pasca hari ini para peserta!

 

Memahami Agen

 

Sore dgn kacang hijau dan lagu Seroja dari Sinar FM, saya menekuri apa itu ontologi sosial.

Bisakah sesuatu itu ada tanpa ada agen yang betul-betul sadar? Bagi pelajar, "agent" ini rumit, bagi orang awam mudah bila diikuti dengan kata minyak. Kesadaran terhadap benda dikaitkan dengan pengamat relatif dalam ilmu sosial, dan pemerhati independen dalam ilmu alam.

Bulan bagi yang pertama bisa melahirkan lagu indah Rhoma Irama, karena di sini ia bisa diajak bicara dan diminta untuk tidak bersembunyi, dan kedua ia adalah benda padat. Anda berada di mana? Sepertinnya kita sering  bolak-balik di antara dua kutub ini. 

Renungan


 Saya mau berbagi renungan untuk guru sebagai ikhtiar menemukan titik pijak dalam mengabdi pada dunia pendidikan sebagai upaya mencerdaskan generasi baru. Dengan bertolak dari gagasan Ghazali dan Freire, kami hendak menghadirkan tujuan utama dari pendidikan, yakni penanaman karakter dan pemerolehan keterampilan. Tentu, kami juga perlu mencari akar dari khazanah sendiri, yang kami peroleh dari guru-guru sendiri, sejak SD dan pondok.

Saya masih ingat kala belajar pertama mengenal huruf di surau Kiai Mohammad Tamhid, yang kediamannya berjarak empat rumah dari kami tinggal. Di sini, saya belajar buku Safinah, menghapalkan sifat dua puluh, dan menunggu dengan gembira untuk segera salat isya sebab di waktu sore sebuah pick up berkeliling bahwa malam itu ada pemutaran film Satria Bergitar.
Kini, kami hanya memungut serpihan dari pengalaman yang menguat sejalan godaan untuk lari dari kampung halaman (baca: tradisionalisme).

Sunday, December 28, 2025

Buku dan Anak Rohani

Setiap orang menjalani nasibnya sendiri yang berasal dari apa yang dipikirkan. Masing-masing akan menuliskan pengalamannya sebagai manusia. Saya, Nurul Huda, dan Rismon Hasiolan Sianipar memilih apa yang harus diungkapkan pada khalayak. Masyarakat yang matang dan terpelajar akan membacanya dengan pikiran terbuka.
Kebenaran memiliki jalannya sendiri. Pada waktunya, setiap individu selesai dengan menyelaraskan pikiran, perasaan, dan tindakannya dalam satu tarikan napas. Sebagai insan yang rasional, kita akan menolak sesuatu yang tidak masuk akal, namun kita juga menimbang rasa yang seringkali diikat oleh norma dan tentu melahirkan prilaku yang menghadirkan kepatutan.
Isu "Kepalsuan" saya tulis dalam Falsafah Harian: Seni Memahami Hidup Sehari-Hari (hlm. 133) yang mungkin tak sepenuhnya merekam persoalan tersebut dalam sejarah pemikiran, namun di kalangan masyarakat Anda pernah mendengar antitesisnya, ini asli lo! Ternyata, untuk membuktikannya itu mudah. Tabir Kepalsuan, lantun Rhoma Irama, akan terkuak.

 

Saturday, December 27, 2025

Hakikat Hidup

 Dimas adalah pembeli pertama buku pada saya secara langsung. 10 buku yang berada di rumah telah berpindah tangan. Apa mungkin dunia hakikat terbuka kala kita terperangkap pada aras syariat? Mungkinkah kita jeda dari haji dulu, lalu biaya itu digunakan untuk kepentingan umat?

Iman itu adalah kesadaran akan kehadiran liyan. Bila kita tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangga menahan lapar, tidak dianggap beriman. Itulah mengapa pelajaran Ilmu Kalam perlu pendekatan yang lebih partisipatoris agar tidak terlalu teologis.

Kita elok memahami kata mampu (istatha'ah) dalam pengertian yang utuh agar pesan agama hadir secara menyeluruh. Khalas.

R.E.M, Masa Kecil, dan Dewasa

Nomor R.E.M Supernatural dari radio 88.5 FM merupakan senarai main (play list) pagi ini. Band musik asal Athens, Georgia, mengingatkan saya masa kecil. Samar-samar, saya pernah melihat posternya di rumah Suparto.
Kala itu poster dan kaset adalah barang mewah. Di rumah, bapak dan ibu hanya memiliki album Rhoma Irama dan lagu-lagu qasidah. Dari sini saya merasa nyanyian Latief M tentang Idulfitri sangat menyentuh. Semuanya bergembira.
Kini, semuanya hadir begitu saja dalam kesadaran estetis. Saya memandangnya bunyi dan kata itu adalah cara manusia untuk memahami dunia. Setelah ditelusuri, lagu Losing My Religion tidak dapat dipahami secara harfiah tetapi percakapan khas daerah asal penyanyi yakni kehilangan kendali atau frustrasi hingga ke titik puncak.
Di komentar Youtube, saya terpaku pada kesaksian ini: This is my dad's song, he has been diagnosed with alzheimer's since 2015 and he is now nonverbal, hardly knows who I am, can't form sentences but we play this for him and he is mouthing some of the words and trying to sing, the power of music 💙.
Akhirnya, saya memutar Latief M dengan Lebarannya, yang sangat jelas membawa saya di jalan kampung di antara rumah Bu Umik Laila dan Pak Zainal kala lagu itu terdengar dari TOA Lo' Songai. Pertanyaannya, mengapa masa kecil itu menyenangkan? Apa kita harus menjadi kanak-kanak kembali agar hidup tertanggungkan?
Di sini, justru menjadi dewasa adalah berperan sebagai orang tua yang melayani anak-anak dan menjadi warga yang baik agar lingkungan tempat kita tinggal menjadi ruang yang menyenangkan bagi generasi alpha dan Z.

 

Friday, December 26, 2025

Jiwa dan Raga

Sepagi ini saya menengok ulang bagaimana filsafat dijalani setelah dipahami. Penyiar radio Sinar berkata bahwa kejayaan itu bermakna bila kita berkongsi (berbagi) dengan orang lain..
Emmanul Levinas berujar bahwa esensi kata itu pada awalnya tidak berada pada makna objektifnya atau kemungkinan deskriptif, tetapi dari respons yang dihasilkan oleh kata itu (hlm. 196).
Aha, lagu Ayam Den Lapeh mengalun. Saya tak paham artinya, tapi ada keriangan dan kehangatan dari teman-teman Minang, seperti Mas Zulheri Rani dan Mas Dian Permata, orang Jakarta asal Padang.
Lalu, Doa dan Airmata oleh CRK jelas bisa dipahami, tetapi apa respons pendengar? Dalam tradisi semiotik, signifikansi adalah arti yang berada di luar makna kata, yang hadir karena kadang lagu, malah pujian menjelang salat, terkait sesuatu yang lain.
Pram kata bahwa kita disatukan oleh bahasa yang setara, sehingga manusia bumi ini tak dibelenggu oleh kasta. Tetapi, dunia modern itu memiliki tuan yang mengatur kehidupan manusia, yakni gawai dan telepon pintar. Karena tak tahu apa yang mau dilakukan, banyak orang habiskan waktu di depan layar.
Kadang, hangat fisik itu juga membantu batin kita. Kopi dan mendoan (tempe goreng) membantu kita untuk senang. Jiwa disangga raga.

 

Thursday, December 25, 2025

Hologram for the King

Saya baru saja menyelesaikan menonton Hologram for the King. Film yang dibintangi oleh Tom Hanks dan Sarita Choudhury jelas menggambarkan dua budaya yang kontras, Amerika dan Saudi Arabia. Meskipun secara komersian gagal, namun film ini menggugah penonton paruh baya tentang krisis dan eksistensi.

Saya suka peran pembantu, Yousef, yang dibawakan dengan baik oleh Alexander Black, lelaki berayah Yordania dan beribu Inggris. Kemampuan bahasa Arabnya menjadikannya sebagai tokoh dengan karakter yang kuat sebagai warga KSA.
Kecemasan itu digambarkan secara sempurna dengan pengangkatan benjolan dari tubuh, seakan-akan hendak mengatakan bahwa perasaan gundah-gulana itu juga bisa dihilangkan dari jiwa manusia. Film ini berlokasi di Jerman, Mesir dan Maroko seraya mengabaikan tanah Haram karena alasan kekangan politik. Betapa cemas Yousef ketika membawa Alan memasuki tanah yang dilarang untuk dimasuki oleh nonmuslim.
Kalau dilihat, film ini bisa menggambarkan kegalauan seorang santri yang belajar filsafat seraya masih membawa pengetahuan dan pengalaman keagamaan dalam keseharian. Ada jurang pemisah yang luas terkait apa itu makna hidup dan bagaimana menjalaninya karena pemikiran kritis selalu bertanya untuk apa ketaatan pada Tuhan.
Benturan kebudayaan hakikatnya bermula dari cara berpikir. Manusia akan bertemu secara utuh bila saling mengerti dan setiap insan saling menyangga dengan menerima satu sama lain dan bersikap jujur. Menariknya, betapa pun ada konflik keras, namun film ini tidak menampilkan secara dramatis, seperti adegan teriak-teriak dan histeris.
Saya pun tertawa kala Alan berada di dalam kendaraan bersama teman-teman proyek yang gagal dan terpaksa menelan pil pahit ketika melihat kontrak teknologi itu dimenangkan oleh perusahaan Cina. Raja Abdullah lebih memilih harga yang murah, separuh dari anggaran yang diberikan oleh Reyland.
Akhirnya, apa pun tantangan setiap orang dari film ini berakhir dengan pilihan hidup. Yousef kembali ke kampung halamannya karena merasa tidak aman sebab diteror oleh orang kaya yang memandang dia adalah orang jahat karena dianggap menjadi duri dalam daging dari kehidupan rumah tangganya.
Saya membayangkan di masa depan identitas manusia tidak lagi dibatasi oleh negara, agama, dan budaya. Ada yang akan menyatukan kita semua yang akan diperantarai oleh penggunaan bahasa, terutama Inggris dan lingkungan alamiah yang asli akan menjadi rumah kita yang paling nyaman. Mari bermain di laut, sawah, dan gunung! Alam menyediakan cukup keingingan kita.

Wednesday, December 24, 2025

Khatmil Qur'an

Semalam saya menghadiri khatmil Qur'an Ikatan Alumni Annuqayah se-Probolinggo di rumah Haji Ashari, Semampir Kraksaan. Bersama teman-teman dari Paiton, kami bertolak selepas isya. Saya membaca juz ke-22. Sebelumnya, saya menikmati kacang rebus dan jeruk Mandarin. Pak Haji Hamsun memimpin doa dan bacaan Qur'an.

Menghidupkan kitab suci adalah merembesi keseharian dengan nilai-nilai, seperti peduli dan tolong-tolong sesama insan. Pada bulan yang akan datang acara ini akan digelar di rumah Haji Mu'iz. Lelaki ini rendah hati dan tenang. Saya pun menemukan kehangatan dari banyak teman di sini, seperti Mas Ainul Yaqin dan Mas Haqqul Yaqin, semangat dari Pak Haji Aros.

Pagi ini, saya akan mengajar mata kuliah Living Qur'an di musala kampus. Dengan memindah kelas ke sini, kita telah memfungsikan tempat ibadah sebagai tarbiyah (pendidikan). Apa hal pertama yang perlu hadir dalam pengajaran? Kedisiplinan untuk datang tepat waktu dan keterbukaan untuk membahas isu secara kritis. 


 

Sunday, December 21, 2025

Angan-Angan

Menunggu pengajian kitab Syarh al-Hikam di musala. Saya dapat datang lebih awal di hari Sabtu karena tidak mengantar anak ke sekolah. Dengan bersiduduk, kita dapat tepekur. 

Sebelumnya, Pak Kiai mengurai tentang derajat kesalehan diraih dengan menutup pintu angan-angan dan membuka pintu kesediaan untuk kematian.

Kini, dari mana angan-angan itu? Dari maklumat yang diperoleh dari luar, seperti iklan, media sosial, kebiasaan, dll. Jadi, apa cukup sesuatu yang ada dalam diri kita?

Mungkin, petuah Abu Sulaiman perlu ditimbang bahwa meninggalkan sebuah hawa nafsu dari banyak hasrat itu lebih bermanfaat bagi hati daripada berpuasa selama satu tahun dan salat malam. Pastinya, pandangan ini dipahami secara saksama.  

ترك شهوة من شهوات النفس أنفع للقلب من صيام سنة و قيامها

 

Membaca Platonya Averroes

Saya membaca buku Plato’s Republic in the Islamic Context: New Perspectives on Averroes’s Commentary, yang disunting oleh Alexander Orwin sambil menikmati The New Radio 88,5 FM. Meskipun ada jejalan pelbagai ruang, waktu, dan ide, saya mencoba keluar dari zona nyaman yang selama ini selalu terbiasa dengan selera musik tertentu. Kala mendengar jenis rock blues soul alternatif alternative rock, dan american, saya juga merasakan keasingan dari Plato, Ibn Rusyd, dan banyak penulis dalam buku kompilasi di atas.

Saya tumbuh dari lingkungan sederhana dalam menjalani hidup. Pikiran sebatas apa yang wajib, sunnah, dan mubah dan mulai berkembang kala di MTs, saya mendengar ustaz Khozaini Azim, Ustaz Hafid Syukri, Ustaz Mistarum, Ustaz Waris Anwar mengajar kami tentang sesuatu di luar keseharian, semisal politik, ekonomi, biologi, dan bahasa.
Di Madrasalah Aliyah, saya menyerap sosiologi dari Pak Panji Taufiq dan kritisisme melalui pengajaran bahasa Indonesia dari Pak Muqiet Arif. Ada banyak guru-guru lain yang juga membentuk pikiran dan perasaan kami. Para kiai tidak hanya mengajar hadis dan ilmu agama lain, tetapi juga teladan tentang istikamah, sahaja, dan rendah hati.
Kejutan datang kala harus mendengar teman saya di Akidah Filsafah IAIN bertanya pada Pak Afandi, guru Ilmu Kalam kami, tentang malaikat Jibril. Apa tugasnya sudah selesai dan kini ia menikmati pensiun? Guncangan datang bertalu-talu semakin kuat dengan intensitas yang tanpa batas untuk menyoal tabu dan had.
Kini, saya menua. Membaca tidak lagi untuk menggugat kepercayaan, tetapi menemukan makna dari keyakinan. Sejauh ini, saya mengikuti apa kata Pak Basyir Soulissa, bahwa belajar filsafat bukan menyangkal salat, tetapi signifikansi sembahyang dalam keseharian. Kadang saya iseng menegaskan bahwa takrif doa Kierkegaard turut mewarnai arti ibadah agar ia tidak dipahami sebagai alat tukar.
Tentu, Prof Zailan Moris mengajar kami untuk melihat pengetahuan dengan hati terbuka dan pikiran luas. Sebagai pembimbing tugas akhir, almarhumah menunjukkan kesaksamaan dalam mendaras karya. Ketika mengikuti bimbingan saya tak hanya mendengar apa yang diucapkan, tetapi apa yang ditunjukkan dari gambar di bilik tempat murid Seyyed Hossein Nasr berkhidmat. Ada foto negeri Parsi yang terpampang di dinding.
Ahmad, tahukah kamu tempat ibadah Zen itu adalah ruang kosong, tidak ada ornamen dll? Aha, bukankah ayah Izutsu bilang, hapuskan kata itu, karena ia tak mewakili apa-apa. Dalam satori, kita akan mendapatkan pencerahan masing-masing. Dalam keseharian kita akan menghadapi kata, benda, dan lambang berebut untuk menarik perhatian kita. Lalu, kita bisa memejamkan mata, seraya bergumam, kosong.

Saturday, December 20, 2025

Rapor Sekolah

Sambil menunggu acara, saya membaca buku tentang keresahan orang Bali. Ada coretan gambar perayaan keagamaan yang ditonton oleh banyak bule berpakaian bikini. Tetapi, di sini tak ada pornografi, kata penulis.

Apa Bali bisa diganti dengan Jawa, Madura, dan Lombok? Ketiganya menghadapi tantangannya sendiri. Kami kini menghadapi kenyataan bahwa generasi baru dari pulau Garam tak bisa menulis jûko', tetapi cuko' untuk ikan.

Oleh karena itu, muatan lokal diajarkan sesuai bahasa ibu secara saksama. Murid dan siswa didorong untuk menulis kata dengan betul. Tak iye?
 

Friday, December 19, 2025

Keumatan

Gonjang-ganjing di PBNU masih berlangsung sengit. Masing-masing kubu bersikeras untuk teguh dengan pendirian masing-masing. Rais aam yang dipandang mewakili kiai dan ketua yang dilihat sebagai santri yang harus tunduk pada patron tidak lagi berlaku. Alasan pemberhentian orang nomor satu di Tanfidziyah dianggap sumir, karena tiga alasan yang disodorkan tidak cukup kokoh untuk mendongkel Yahya Staquf.

Ulil Abshar Abdalla menulis di akun sosialnya bahwa tanpa kerelaan ketua umum, keputusan syuriah tidak sah. Muktamar adalah arena tertinggi yang bisa menentukan kedudukan pengurus. Sementara dari kubu Miftahul Akhyar bersikeras untuk menghentikan pemimpin eksekutif seraya menegaskan kedudukannya tidak sah untuk berkantor di Kramat Raya.

Berbeda dengan santri yang kritis, pertikaian ini dianggap sebagai perebutan akses ekonomi. Kubu ketua umum ingin mengalihkan pengurusan tambang ke lingkaran presiden yang berkuasa hari ini, Prabowo, sementara kubu Saiful yang ditengarai berada di balik konflik hendak mengekalkan hubungan dengan mantan presiden, Jokowi. Alih-alih menangguk hasil, organisasi keagamaan terbesar tanah air malah bertengkar sesama sendiri.

Organ

Pertikaian antarpetinggi di tubuh organisasi berlambang bumi bukan hal baru. Muktamar Cipasung mempertontonkan hasrat penguasa yang hendak menjegal Abdurrahaman Wahid menuju kursi nomor satu. Namun, dukungan para kiai dan pengurus wilayah mampu menghalangi Abu Hasan, boneka yang hendak dipasang oleh pemerintah. Tentu, konflik antara Kiai As’ad Syamsul Arifin dan Kiai Idham Chalid adalah contoh lain, yang menyebabkan NU terbelah ke kubu Cipete dan Situbondo.

Sebagai organisasi terbesar, peran kiai sepuh dianggap bisa menjaga jam’iyyah dari rongrongan internal dan eksternal. Kedudukan rais aam sebagai pemimpin tertinggi tentu memiliki wewenang untuk menimbang ketua umum, yang bila dianggap melanggar bisa diambil tindakan. Dari ketiga alasan yang dijadikan dasar tentu perlu diajukan kepada ketua umum untuk membela diri. Apa yang dialami oleh Gus Yahya hampir serupa dengan apa yang dialami Gus Dur, yakni dimatikan karakternya, lalu dipaksa untuk turun.

Hal terburuk dari pertikaian ini adalah normalisasi adu kuat di tubuh organisasi pada masa yang akan datang. Tak hanya itu, kini santri pun menjaga jarak dengan patron, kiai. Mereka menyebut dirinya sebagai tradisional kultural seraya menyodorkan pikiran baru bahwa perubahan itu melalui pelbagai jalan. Seorang santri putri yang berada di Amerika telah melontarkan kritik tajam kepada kepimpinan pesantren. Santri putra lain yang berada di Australia untuk menyelesaikan program doktornya dalam bidang filsafat menyoal persoalan sistemik terkait kondisi pondok.

Taruhan

Sinar terang datang bersamaan dengan seruan pelbagai banom NU, seperti RMI, Serikat Nelayan, dll. Mereka menyerukan agar kedua kubu yang berseteru berdamai. Namun, sepertinya panggilan ini dianggap angin lalu. Malah, kedua kubu tidak bisa bertemu secara bersamaan di Tebuireng, tempat pendiri NU bermastautin. Keduanya bersikukuh dengan pendiriannya masing-masing.

Pepatah Melayu yang menang menjadi arang dan kalah menjadi abu, bukan sekadar kata-kata klise. Ia menggambarkan apa yang terjadi dengan pihak yang dikalahkan. Kita tidak lagi melihatnya sebagai hal biasa karena dulu hal yang sama berlaku, tetapi jelas berbeda dengan apa yang terjadi pada kali ini. Ketua umum tidak hanya dikaitkan dengan anak ideologis Gus Dur, tetapi juga berasal dari keluarga kiai ternama.

Kebuntuan ini hanya semakin meneguhkan bahwa santri sedang berhitung. Institusi baru harus lahir untuk memberikan ruang bagi kebebasan yang didasarkan pada keterbukaan dan kesetaraan. Alumnus pondok pesantren kini secara terbuka menyatakan diri sebagai pengikut Mu’tazilah yang secara teologis berseberangan dengan landasan Asy’ariyyah yang menjadi dasar dari pandangan dunia kaum Nahdliyyin.

Malah, Roy Murtadho, yang mengelola pondok lingkungan, menyatakan secara terbuka bahwa penerimaan konsesi tambang merupakan kemerosotan moral. Alih-alih bergabung dengan partai yang berafiliasi dengan santri, seperti PKB, PPP, dan PKS, ia justru menjadi pelopor Partai Hijau, yang lebih jelas keberpihakannya pada kelestarian alam. Jadi, kritik dari kalangan sendiri akan menggerogoti kekuatan jemaah.

Dalam komunikasi efektif Jürgen Habermas, setiap pihak seeloknya berdiri setara, meskipun secara struktural dan kultural, rais aam berada di hierarki tertinggi. Namun, syuriah juga dianggotai banyak kiai senior lain yang tidak sepenuhnya sebulat suara untuk mencopot ketum. Dari sini, kematangan diuji, dan santri sedang merapatkan barisan untuk menghadirkan gerakan alternatif.

Sumber: Keumatan 

Sore dan Bermenung

Sore, radio, dan tepekur. Sehabis tidur siang, saya menikmati kopi di teras. Kafe kini berada di rumah. Menua adalah menunda, sebab tubuh semakin ringkih. Asupan perlu dijaga. Gerak perlu dilakukan.

We will Rock You dari Sinar FM menyemangati kami. Apalagi yang tersisa selain kita bermenung? Apa yang harus sampaikan pada mahasiswa di acara Hari HAM se-Dunia?
Setidaknya, kita telah memulakan perbincangan ini di tempat kita tinggal. Menjaga jiwa sebagai tujuan syariah perlu diurai secara praktis. Ia tidak lagi hanya dalil yang diperbincangkan secara terbatas. Merawat kejiwaan (kedirian) adalah memelihara kehidupan yang meliputi pemenuhan kebutuhan konkret dan batin secara serentak.

Ket: Gambar adalah hidangan di warung Kopi Tiam Bukit Gambar yang diunggah oleh teman baik asal Kelantan, Dr Supyan.

Thursday, December 18, 2025

Sarwaan

Apa pun boleh bubar, tapi tidak kebersamaan. Kita bisa bikin lembaga baru dengan nama yang lain. Semangatnya sama saja: hidup dengan liyan.

Seusai baca Yasin dan Tahlil, kami membahas masalah kampung. Rencana bikin selamatan untuk tolak bala diungkap kembali. Selain doa, warga telah memperbaiki jalan masuk RT. 

Apa yang menggerakkan kita? Kita bisa sebut banyak pemikir, dari Ghazali, Nietzsche, Schopenhaeur, dan Suryamentaram. Justru saya ingat Pak Syam, penarik becak. Di usia 79 tahun, ia masih mencari nafkah, padahal 8 anaknya minta sang ayah duduk di rumah di umur senja. 

Dorongan untuk hidup tenang, nyaman, dan tentram bisa diketengahkan. Kita bisa menemukan cermin di dekat kita. Anda bisa menemukannya bila hendak mencari dengan tulus. Setiap orang pasti akan memilih sesuai dengan pandangan dunianya. 

Semisal, saya lihat sosok pengajar Syarh al-Hikam  membawakan dirinya dengan bersahaja. Kata-kata dan tindak tanduknya adalah wujud dari pikiran dan perasaannya yang luas dan terbuka, tetapi ia mengambil jalan hidup yang "sempit" dan "tertutup". Sungguh paradoks! Justru, inilah yang harus kita lakukan karena kita tidak bisa menjalani semua bentuk laku. Wajahnya memancarkan kejernihan karena hatinya bersih dari iri dengki, congkak, dan riya'.

Monday, December 15, 2025

Semantik dan Kesadaran Etis

Sebagai pengajar Semantik dan Ma'anil Qur'an, saya berpandangan bahwa lulusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir akan menjaga alam, karena bila tak menunaikan amanah Tuhan ia ingkar.

Bila lulusannya dilantik sebagai menteri kehutanan, ia akan merawat kepercayaan ini dengan mengangkat pembantunya yang ahli kehutanan. Malah, ia bisa meminta nasehat pada Jokowi yang sarjana kehutanan

Jabatan menteri itu didasarkan pada keseimbangan politik. Lagi-lagi, polis itu kota, agar kita beradab. Anwar Ibrahim diganjar sbg menteri keuangan terbaik meskipun lulusan Bahasa Melayu. 

Tentu, bila dituntut mundur, usah melibatkan Tuhan, cukup dibicarakan dengan pak RT, ujar Remy Silado. Warga pun tahu bahwa penguasaan lahan dikangkangi oleh 10 oligark. Sementara kita hanya digelorakan dengan cinta tanah dan air. Betapa platonis! Tragis.

 

Sunday, December 14, 2025

Film Laut Bercerita

Saya sangat suka karya ini diangkat ke film panjang, yang versi pendeknya sering dihadirkan bersamaan dengan bedah novel di banyak lokasi. 

Apa ada pengambilan gambar (shooting) di Blangguan, Bu Leila S. Chudori? Daerah ini tak jauh dari rumah kami, Paiton. Pasti film ini akan membuat pesan tentang kekerasan tidak boleh terulang mengalir lebih jauh. 

Ia akan menyegarkan ingatan banyak orang bahwa penculikan itu bukan khayalan meskipun diceritakan melalui karya fiksi. Ada korban yang belum ditemukan. Ada ibu dari anak yang wafat karena peluru yang masih menuntut keadilan.

Paman Faridl Rusydie, nanti saya akan menapak tilas kawasan tersebut. Bagian ini dibuka dengan Sajak Seonggok Janggung oleh WS Rendra. Menonton film ini adalah cara kita melawan lupa.

 

Saturday, December 13, 2025

Kabar Baik

Pembaca mengirim kabar bahwa buku sudah sampai. Ia adalah pelajar Akidah Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. 

Di halaman Kejawaan (hlm. 95), saya mengulas asal-usul jati diri Jabadiu, sebutan Claudius Ptolomaeus, untuk tanah kakek-nenek Biyya-Zumi. Kemaduraan akan dianggit di jilid kedua. 

Kemarin, di acara peluncuran Jong Madura Probolinggo Raya kami membahas warisan Kiai Kholil Bangkalan. Otomatis, ia juga menyentuh identitas etnis. Betapa pun saya adalah posmodernis, tetapi akar itu soal terberikan. Kala menikmati syair kematian Kiai Aminullah dalam bahasa terindah di dunia, saya fana.

Inilah pandangan dunia orang Madura. Dunia itu adalah tempat beramal untuk menuju kematian dengan senyum. Heidegger, apa kabar? Anda sudah ditanya, siapakah Tuhan Anda? Nabi? Kitab? 

Falsafah lain adalah badha tolés, tolos. Ada tulisan (ketetapan Tuhan), jadilah. Orang Pulau Garam diam-diam mempercayai predeterminisme. Sejalan dgn neurosains, hidup ini telah ditakdirkan. Mari peluk nasib ini dengan penuh ghirah!

Pagi Sore

Dari Bidakara, saya dan Mas Duri ke warung Padang Pagi Sore. Anehmya, kami menikmati makan malam. Saya merasakan kenyal kikil dan menyedap cappucino. 

Di sini, kami malah lebih menghabiskan banyak waktu ngobrol tentang hidup keseharian. Apa yang sering dilakukan? Dengan siapa? Untuk apa? Bagaimana? Mengapa? 

Nanti bila Gus Duri ke Paiton, kami akan juga ajak ke Pagi Sore. Bedanya, kita tak akan menemukan makanan penutup seperti Jakarta.  Nggak apa-apa, kita akan mengakhirinya di rumah Gang Mekar.

 

Friday, December 12, 2025

Silaturahmi

Keduanya menghubungi saya melalui pesan singkat hendak bersilaturahmi. Karena menjelang magrib, saya meminta Asrori dan Ahmad ke masjid terlebih dahulu karena saya akan mengikuti Yasinan. Mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi ini pun turut serta dalam kegiatan rutin setiap malam Jum'at.
Setelah itu, percakapan bergeser ke rumah. Di sini, kami bicara gelar wicara hari HAM se-Dunia yang akan dilaksanakan secara daring. PMII Rayon Al-Irsyad UNZAH Genggong memandang isu hak asasi manusia mesti dilihat secara jernih. Tabik.

Saya senang bila kaum terpelajar bergerak. Mereka jelas memahami keadaan. Untuk itu, mereka hendak menyampaikan pesan bahwa hak asasi manusia masih menjadi persoalan serius negeri ini.

 

Thursday, December 11, 2025

Belajar

Saya belajar dari Falsafah Harian I ini. Ada kritik dari teman bahwa setiap tulisan tidak berada dalam perenungan yang sama, ada yang sambil lalu, serius, dan relijius. Bukankah filsafat itu nalar, bukan wahyu? Mengapa bawa-bawa ayat? Ya, saya akan menimbang saran itu.

Saya sedang menganggit "Kelupaan". Sekali waktu, saya bertanya pada istri, mana kacamata ayah? Hah, kan dipakai? Tukasnya sambil tertawa. Eh, ternyata lupa itu membawa gembira. Kami pun tergelak. Tetapi, mengapa kita harus melawan lupa?

Apa ini gambaran Kitab Lupa dan Gelak Tawa Milan Kundera? Tidak. Tetapi ada irisan tentang apa itu lupa dan tawa dalam keseharian kita. Bila lupa itu mendatangkan kesenangan, mengapa kita harus lawan?

Langkah ke kampus pun menjadi lebih ringan. Tentu, lupa tidak bisa dibuat-buat.

Monday, December 08, 2025

Lingkungan

Pelan tapi pasti, ia akan menjalani keseharian bersama teman-teman kampung tempat kami tinggal. Ia pergi ke surau, bermain bola, dan menaikkan layangan.

Ia tumbuh berkat dorongan Akmal-Kiki kala melantunkan pujian, bantuan Nabil ketika pertama kali naik sepeda, dan sembahyang berjemaah di hari libur bersama Ruzbihan.
Kita sebagai orang tua mewujudkan persekitaran yang mendukung minat anak. Semalam Pak Hapandi berkisah soal Hisan, sang anak, yang suka bahasa Mandarin. Hisan belajar menulis huruf asal negeri Panda melalui Youtube.
Di masa yang akan datang, anak-anak di RT kami akan saling mendukung untuk belajar sesuai keinginan masing-masing, termasuk penguasaan percakapan bahasa asing.
Dulu, Pak Umar, rekan kampus UNUJA, menggunakan bahasa Arab dalam keseharian. Kalau di sini Jawa dan Madura, maka bahasa yang berbeda juga dapat digunakan sebagai cara untuk membiasakan generasi alpha dgn daya ungkap luar.

Sunday, December 07, 2025

Geprek Sa'i dan 212

Ada pesan masuk. Si sulung minta dibelikan burger dan french fries. Kami berdua pun menuju geprek Sa'i. Waralaba yang menerakan spirit 212 di bungkusnya menyediakan makanan Amerika dan Perancis.
Sekali-kali anak-anak ingin makan burger yang dulu dengan mudah didapat di Kedah karena ia dijual di kedai pinggir jalan. Bagi saya, rasanya tak serangup goreng pisang pada acara khatmil Qur'an kemarin.
Orang tua memang beda dengan anak. Di sela menunggu, saya minta Zumi membaca kartu pos yang terselip di buku The Power of Ideas, yang saya pinjam dari perpustakaan Universitas Nurul Jadid. Anak SD ini paham apa itu we are pleased to inform you, tetapi ia belum membaca apa itu pleasure dalam filsafat. Setidaknya, saya bisa menahan diri tidak membeli burger. Maklum saya membawa nasi untuk makan malam.

 

Anwar dan Buku

Saya belum pernah pergi ke kedai buku ini, Tsutaya. Andai berada di KL, saya akan menghadiri pelancaran karya Anwar Ibrahim.
Setiap pemimpinan memiliki kelebihan masing-masing. Dari banyak pelbagai kecerdasan, Anwar jelas mempunyai kemampuan membaca dan berbicara yang cemerlang. Kepetahannya berpidato di depan khalayak jelas menunjukkan kepiawaiannya menggunakan bahasa dengan saksama.
Dari segi ekstrapersonal, ia mampu menjalin hubungan persahabatan dengan orang kenamaan di seluruh dunia dari pelbagai latar belakang, dari Yusuf Qaradawi hingga Algore. Di saat menjadi pembangkang (oposisi), ramai sarjana Indonesia yang memberikan sokongan.
Kala Gus Dur meninggal, Wan Azizah datang memberikan penghormatan terakhir. Menariknya, ayah Nurul Izzah ini juga rapat dengan Adi Sasono, yang beda haluan politik dengan GD. Tentu, pertemanannya dgn Habiebie sangat mencuit hati.
Memang, kedekatannya dengan Wolfowitz telah menimbulkan tohmahan kerana ia dianggap tali barut Israel. Apa pun, seperti mana dijelaskan dalam Facebook, penulis Asian Renaissance ini ingin memperbaiki kekhilafan dan kebijaksanaan untuk memahami dan keinsafan untuk berubah. Tak ramai pemimpin negara yang merancakkan percakapan ilmu dalam erti yang paling tulen. Tabik.

 

Hari ke-11 (Kitab dan Pohon)

Bila kamu memiliki taman dan perpustakaan, maka kamu mempunyai segalanya yang kamu butuhkan (Cicero, 160-43 SM). Kata ini cermin bahwa penge...