Friday, January 30, 2026

Hari Ke-30 (Kehangatan)

Judul di atas bisa dipahami secara harfiah dan kiasan. Keduanya sama-sama mendatangkan kenyamanan. Kala dingin, air yang dipanas dan dicampur dengan air dari bawah tanah menjadikan mandi menyenangkan. Ketika bertemu seseorang yang membawakan dirinya riang dan perhatian, kita mendapatkan kehangatan, baik dari sentuhan fisik, perhatian, atau ucapan.

Salah seorang teman yang hangat itu adalah Sulthon Firdaus. Ia adalah dosen bahasa Arab yang meraih gelar doktornya di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Setiap kali bertemu, wajahnya bersinar terang dan berkata-kata dengan penuh keriangan. Teman lain adalah Hilmy Muhammad, yang kini menjadi angfota Dewan Perwakilan Daerah dari Yogyakarta. Sapaan dreh (bindharah, santri dalam bahasa Madura) diucapkan dengan ketulusan. Kawan dari jiran yang menghadirkan perasaan itu adalah Zainal Abidin Sanusi dan Mohamed Imram Mohamed Taib.

Sebagaimana resolusi 2026, saya ingin merawat keseharian dengan lebih sungguh-sungguh. Meskipun membaca Martin Buber, I and Thou (1937) saya melihatnya dari kegiatan yang biasa dijalani sehari-hari, seperti menyediakan air panas untuk Zumi agar dapat mandi pagi dengan penuh semangat dan merasakan kedekatan dengan tetangga di banyak kegiatan, seperti Sarwaan, Yasinan, dan gotong royong. Tidak hanya itu, Di dalam keluarga ia bisa ditunjukkan kala saya mencuci piring di dapur untuk mengajari Biyya tentang kesetaraan yang menjadi salah satu pencetus kehangatan.

Dulu, saya juga merasakan kehadiran dosen Yahudi di UIN Sunan Kalijaga, Natalie Polzer. Pengajar asal Canada ini mengajar Kajian Yahudi dan Kristen dengan penuh semangat dan khidmat. Sebagai penganut agama yang salehah, ia menjelaskan tata cara ritual agama serumpun ini. Namun, perbedaan itu tidak menghalangi untuk membaca teks agama secara kritis dan relasi antarindividu berpijak pada humanisme, kami sama-sama manusia.

Dari pengalaman, di sini ada relasi I-It dan I Thou seperti diandaikan oleh Buber. Hubungan manusia yang bertumpu pada I-It di mana liyan dipandang sebagai itu (It, benda), akan berhenti pada sekadar pemanfaatan dan pengalaman sebagaimana di era modern yang serba teknokratis dan mekanis, bukan lebih jauh pada I-Thou. Idealnya, satu sama lain saling menyangga untuk menemukan autentisitas, bukan kepalsuan yang acapkali menyandera manusia pada sifat pamer, angkuh, dan nirempati.

Jadi, kebebasan tidak dipahami sebagai pemenuhan kehendak seseorang. Sebagaimana ditegaskan oleh Buber bahwa The free man is he who wills without arbitrary self-will. He believes in reality, that is, he believes in the real solidarity of the real twofold entity I and Thou (hlm. 59). Kebebasan bukanlah untuk melakukan apa pun yang kita inginkan secara egois dan semena-mena. Justru ia adalah kehendak yang terarah pada hubungan, bukan pada pemuasan diri sendiri secara sempit. Pendek kata, orang merdeka mengarahkan kehendaknya dalam kerangka tanggung jawab dan pengakuan terhadap keberadaan orang lain/dunia di luar dirinya.

Wujud dari gagasan di atas adalah keterlibatan kita dengan banyak aktivitas organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Namun, hubungan ketetanggaan melalui kegiataan sukarela seperti gotong royong juga layak mendapatkan perhatian. Sesudah menggelar Yasinan dan Tahlilan di acara Sarwaan, Pak RT 23 mengusulkan pengembangan kelompok masyarakat yang akan mengelola sampah organik dan nonorganik. Bermula dari kumpulan kecil, yakni 9 rumah tangga, ide untuk mengurangi sampah buangan ini bisa realisasikan secara lebih luas dan berdampak

Di sini, kehangatan lahir dari kesetaraan dan kesalingmengertian untuk memupuk kebajikan. Tentu, satu sama lain memiliki cara sendiri dalam membawakan diri. Akhirnya, pertemuan rutin akan menyuburkan hubungan Aku-Kamu yang lebih bermakna seraya menyeimbangkan kebutuhan rohani dan jasmani. Setidaknya, dengan ritual bersama ini, setiap individu berhenti sejenak dari telepon genggam dan satu sama lain saling bercakap dengan hangat setelah bermunajat melalui doa dan bacaan. Itulah mengapa saya tidak membawa Samsung ke tempat pengajian ini.

 

 

 

Thursday, January 29, 2026

Hari ke-29 (Karya dan Makna?)

Setiap buku punya cerita. Ia lahir dari pengamatan dan pengalaman sehari-hari, yang menyesuaikan dengan momen dan peristiwa. Buku hitam bertuliskan judul keemasan itu adalah disertasi yang diselesaikan di Universitas Sains Malaysia. Dalam pengantarnya, banyak kisah yang turut mewarnai perjalanannya, seperti pencarian bahan di UIN Jakarta, NUS Singapura, dan UIAM Kuala Lumpur. 

Agama Sipil adalah lahir dari kuliah dosen yang pernah menjadi murid Robert N Bellah kala belajar di Amerika. Bernard Adeney Risakotta menyebut Bellah sebagai dosen nyentrik. Penulis Beyond Religion ini pernah menaikkan kakinya yang bersepatu ke atas meja. Berkat komunikasi dengan pihak Pustaka Cantrik, karya ini naik cetak. Kami pernah membedahnya bersama BEM Fakultas Sosial Humaniora UNUJA dengan menghadirkan teman baik, Luthfi Assyaukani dan Zainal Abidin Sanusi. 

Sementara Nietzsche dan Islam didorong untuk menjadi proyek terjemahan di kelas Membaca Teks Inggris yang digelar di kampus. Di bulan puasa, saya mengetik huruf demi huruf dari Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Saya membayangkan peserta juga akan melakukan hal serupa agar nanti menghasilkan karya terjemahan dan memiliki modal untuk memasuki belantara pengetahuan. 

Terakhir, Kehendak Berkuasa dan Kritik Filsafat adalah kumpulan opini di koran Jawa Pos. Saya berterima kasih pada Kiai A'la yang berkenan memberikan endorsement untuk buku kompilasi ini. Beliau adalah sosok yang bersedia turun ke bawah untuk bersama masyarakat, yang menjadi ilham santri untuk hidup bersahaja dengan orang kebanyakan. Tentu, orang yang sangat berjasa adalah orang yang memotret buku ini sebagai koleksinya, Imam Nawawi, kawan baik asal Situbondo yang anaknya mondok di Nurul Jadid, Paiton. 

Hari ke-28 (Menelisik Bahasa)

Mengapa orang Malaysia menyebut mubaligh Kristian dan kita, warga Indonesia mengartikan istilah yang berasal dari bahasa Arab itu dengan misionaris? Secara psikologis, bahasa rumpun Semitik ini identik dengan agama. Tak dapat dielakkan, seorang ayah akan menyebut dirinya Abu Khadijah apabila nama yang tertera di KTP bertanda nama lokal, seperti Jawa, dll. 

Isu di atas perlu diteliti lebih jauh dari banyak aspek agar bahasa bisa dilihat sebagai daya ucap dan ungkap yang memungkinkan komunikasi satu lain berlangsung baik. Lagi pula, kita tumbuh dengan banyak bahasa yang secara emosional, menurut Nelson Mandela, bahasa ibu memiliki ikatan kuat dengan pengguna.

Betul, saya merasakan getaran yang dahsyat kala mendenar syiir, sebutan syair dalam bahasa Madura, yang dibawakan oleh Kiai Aminullah. Apakah ini terkait temanya juga, kematian? Tidak, tema sang penyair beranekaragam.  


 

Tuesday, January 27, 2026

Hari ke-27 (Menyambut Puasa)

Kita tak lagi bicara hal yang rutin, apakah puasa diawali pada hari yang sama oleh dua ormas keagamaan atau tidak, tetapi bulan Ramadan selalu menyuguhkan kenaikan harga barang karena harga permintaan melonjak? Bukankah inti puasa adalah menahan diri, mengapa orang cenderung menambah porsi? Mengapa ia bukan bulan peduli?
Tulisan lama ini masih relevan atau atau ada gagasan baru? Puasa menjadi jati diri dan penyeragaman sebagai wujud dari pembakuan (standardization). Dunia sosial menjadi "terbakukan" sehingga kehilangan dinamika, kejutan, dan potensi untuk yang benar-benar baru. Kenyataannya, puasa hanya jeda dari kehidupan biasa, makan di siang hari diganti ke malam, sedangkal ini. Tetapi, kita menyoal tidak lalu menolak untuk menahan makan dan minum di siang hari, bukan?

 Akhir-akhir ini, pujian di masjid berkumandang agar kami mendapatkan keberkahan bulan Rajab dan Sya'ban dan menyampaikan kami ke bulan Ramadan. Bila jauh-jauh hari hendak memasuki puasa, kita telah membiasakan diri untuk meraup esensi pesannya, menahan diri. 

Monday, January 26, 2026

Hari ke-26 (Polemik Sains)

Meskipun gebukan drum Main Hati Andra and the Backbone tidak selembut aransemen Akal Imitasi terhadap lagu yang dibuat ulang, pagi ini saya menikmatinya melalui radio Suara Surabaya. 

Sambil mendengar siaran, saya membaca PASTI oleh Goenawan Mohamad yang terdapat dalam buku Polemik Sains: Sebuah Diskursus Pemikiran. Buku ini dibeli oleh Biyya di pameran buku Kelompok Kajian Pojok Surau KKPS menyambut Harlah ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Tulisan pendek penganggit Catatan Pinggir ini tetap memaksa saya mengerutkan kening karena ia mengerangkeng kutipan awal dari Popper bahwa tujuan pengetahuan adalah kebenaran, bukan kepastian. Bagaimana kita hendak memahami petikan singkat ini? Seingat saya, Mas Achmad Maulani telah membaca tuntas penulis Inggris-Austria tersebut. 

Membaca kemudian menjadi bergiat dengan melompat ke sana ke mari, mengingat masa lalu dan mengandaikan masa depan dan bersisiduduk pas mendaras dengan kepahaman yang mudah retak. Tragedi Covid-19 hendak mengabarkan bahwa manusia akan terus belajar karena mereka tidak akan pernah menggengam kepastian. 

Lalu, apa yang hendak didapat dengan kepastian yang paling mudah dalam keseharian? Saya memasak air hingga mendidih agar dapat menyeduh kopi. Kehangatan menjalar ke raga lalu ke jiwa. Apakah saya perlu mengukur kepastiannya dalam skala 1-10? Apakah saya perlu mengalir saja? Kehangatan itu ternyata dirasakan setelah dipikirkan. 

Pikiran tentu berpijak pada pengetahuan dan pengalaman. Bila tensi naik, saya mengingat kembali pesan dokter. Setiap tubuh mengenal dirinya. Saran untuk berjalan 30 menit 5 kali seminggu dilakukan dan di sini saya mendapatkan pengalaman pagi yang memantik renungan.

Setiap kali memutari kampung, di ujung menjelang jalan raya terdapat kuburan yang berdekatan dengan rumah dan toko.  Di pagi buta saya melihat seorang remaja yang bermain telepon dengan membiarkan pintu terbuka yang menghala ke banyak batu nisan. Sebegitu dekat tetapi ia tidak takut. Kematian itu pasti, tetapi pocong itu tidak.

Kini, ketakutan itu tidak pada pocong, tetapi pada kecemasan yang dipicu oleh kekhawatiran tidak sama dengan orang lain atau tidak bsia menikmati apa yang ditunjukkan liyan. Media telah mendikte selera atau kemauan khalayak.

Sunday, January 25, 2026

Hari ke-25 (Menemukan Diri)

 

Dilema Kesia Syfa telah dihentikan oleh keputusan untuk memilih sebagai laskar dan mencopot kewarganegaraannya. Tentu, sebuah pilihan yang sulit untuk meninggalkan tanah air, tempat ari-arinya ditanam, tepatnya di Tangerang.
Apa batas itu? Mungkin dengan selembar tanda pengenal kita telah mengurung diri dengan jati diri, padahal ia jauh lebih sublim daripada sekadar nama, jenis kelamin, agama, dan kewarganegaraan. Kala menjadi manusia, seorang individu sebenarnya sedang berkelana untuk menemukan hakikat keberadaannya.
Sepelemparan batu ke negara tetangga, kita bisa melihat Indonesia yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, negeri yang elok dan kaya. Lebih jauh dari angkasa, kita melihat negeri Zamrud Khatulistiwa adalah bagian kecil dari bumi yang menyangga kehidupan penghuni.
Saya berada di titik koordinat 7°43'30"S 113°32'32"E. Tetapi, eksistensi kita melampaui angka. Maknanya mungkin bisa dijelaskan dalam geografi, tetapi artinya bisa bergeser ke humaniora (the humanities). Apa yang hinggap di kepala bersumber dari banyak pengetahuan dan pengalaman manusia, namun saya merasakan kehadiran sebagian dari daya ungkap bagaimana mengada.
Bayangkan, Tuhan hadir dalam bacaan, itu pun saya merasakan secara mendalam dalam lantunan surat Al-Rahman Al-Khushary, karena pada masa kecil samar-samar kami dulu mendengar tilawah dari qari Mesir ini melalui TOA yang dipancang dengan bambu di seberang sungai. Namun, Tuhan jauh lebih besar dari prasangka ini.
Orang asing pertama yang saya jumpa adalah Rob Baedeker, warga Paman Sam yang mengajar kami bahasa Inggris. Sebelumnya, sebagai santri saya tahu kebaikan Thomas Hutchins yang mengajar cara mengetik sepuluh jari dan menghasilkan buku jawaban untuk buku teks Inggris SMA berwarna hijau dan merah itu.
Sambil mengetik status ini, saya mendengar radio The New 88.5 FM yang mengudarakan Fall Moon" dari band indie rock St. Paul & The Broken Bones. Paul Janeway adalah vokalis berkulit putih yang membawakan genre yang sering dikaitkan dengan orang Afro-Amerika. Soul dan R&B itu dibawakan dengan utuh oleh lelaki yang membesar di Alabama dan tumbuh dengan lagu Gospel.
Akhirnya, Kezia Syfa akan menemukan dirinya di tengah jati diri yang telah melekat. Dasar dari deklarasi kemerdekaan Amerika adalah pencarian kebahagiaan, dan Syfa tentu telah bertaruh untuk menebusnya. Semoga ia akan menggenggamnya dan keluarga tidak akan merasakan kehilangan sebab bumi ini milik manusia dan kita hanya memberinya batas agar kita saling mengenal satu sama lain.

Saturday, January 24, 2026

Hari ke-24 (Liberal lwn Konservatif)

Buku ini diterbitkan pada 2004. Betapa penulis yakin bahwa kaum liberal akan menang karena jajak pendapat menunjukkan mayoritas orang Amerika mendukung hak aborsi, ruang pribadi, kebebasan sipil, dan agama dicegah masuk sekolah negeri.

Di bab 1, ia berkisah tentang apa itu Kekayaan dan Kekuasaan dalam kaitan dengan hidupnya. Robert B Reich lahir di Scranton, Pennsylvania dan tumbuh besar di sebuah pinggiran New York, berbatasan dengan Connecticut.

Kami tidak miskin, tetapi saya ingat ayah saya begitu khawatir dengan banyaknya tagihan. Sesuatu yang harus Anda tahu saya tampak terlalu pendek untuk seusia saya. Sekarang masih. Tinggi kedua orang tua normal, sehingga ini tampak menjadi teka-teki.

Tidak ada cara untuk membuktikan semua ini, tetapi saya menduga kekhawatiran awal saya tentang membayar tagihan dan dirisak mempunyai dampak jangka panjang. Ketika dewasa, saya mengajar dan menulis tentang ekonomi dan pemerintahan, yakni, tentang kekayaan dan kekuasaan.

Pasar adalah tempat kekayaan dikumpulkan. Politik adalah ruang kekuasaan publik dilaksanakan. Keduanya harus dipisah (hlm. 11-12). Tetapi di negeri ini, seorang menteri bisa mengelola perusahaan tambang tanpa ada aturan yang bisa mencegahnya karena undang-undang bisa dikadali. Konflik kepentingan dianggap angin lalu.

Dari bacaan ini, kita bisa bercermin bahwa pengalaman liyan memang berbeda, namun setidaknya menggiring kita pada sikap autentik bahwa ideologi itu masih mungkin menjadi pijakan dalam mengambil sikap dan menentukan pilihan pada tahun 2029. 

Friday, January 23, 2026

Hari ke-23 (Kopi Sachetan)

Selain soda gembira, kami menikmati minuman kopi ini kala kos dulu. Coklat granul? Ah, saya pun tak tahu dari mana dan bagaimana ia dibuat. Itulah awal kami menyesap qahwah dengan tambahan rasa lain. Ayah saya hanya perlu bubuk dan gula untuk merasakan kehangatannya. Itu pun biji itu ditumbuk sendiri oleh ibu.
Sekali-kali. Kata yang hakikatnya hendak menghadirkan ingatan. Apalagi, rokok Djarum eceran bisa dibeli di depan warung kos Sapen, tak jauh dari asrama Putera IAIN. Kala itu, kami berpikir revolusi, kini tidak. Sebelum mati, kami akan menjalani detik demi detik sehari-hari di mana pikiran dan perasaan diuji dengann sengit. Tidak lagi langit, tetapi bumi, tempat kita bertukar cerita apa adanya.
Apa yang dipikirkan tokoh Tempo ini, seperti Bivitri Susanti, Agus Widjojo, Yanuar Nugroho, Arif Maulana, tentang rumah, keluarga, dan tetangga, dan akhirnya manusia dan alam. Saya pun mafhum bila Bivitri menyoal militerisme karena ini terkait dengan kesejahteraan dan kelestarian, bukan?
Pagi ini, saya pulang ke rumah setelah mengantarkan dua anak dan istri ke sekolah. Di kediaman, saya mendengar lagu Radiohead dari The New Radio untuk mengerti Amerika. Lalu, saya memasang telinga Sinar Radio sebab bulan depan kami akan ke Semenanjung. Tetapi, hidup itu lagi-lagi soal detik demi detik membawa diri di rumah, tempat bekerja, dan lingkungan tempat kita bermastautin.
Aha, saya menggali tanah untuk mengubur sisa makanan agar mengurangi beban TPA, mengumpulkan bekas botol air mineral, mematikan semua lampu dan mencabut kabel agar tidak menjadi beban watt, dan mencuci pinggan dan cawan secara manual. Dengan mengisi masa sesederhana ini, saya merasa telah melakukan sesuatu yang benar. Dalam falsafah, kala berbuat baik, kita akan mendapat bonus, yakni bahagia.
Alahai, Yang Tersayang dari Amelina dan Iwan mengalun. Dangdut itu mendatangkan kesenangan karena ia lahir dari tanah sendiri. Kita tak perlu membayarnya mahal untuk menikmatinya. Sebab jika seseorang menaikkan diri dengan selera tinggi yang dibeli, ia tak paham apa yang dijalani. Kepahaman melahirkan pengetahuan dan tindakan.
Alamak, Aku Hanya Serangga oleh Bumiputera Rockers. Dua kata terakhir ini menarik, karena sebenarnya tidak ada jati diri tunggal. Kala menyebut anak bumi, kita juga anggota dari bumi yang lain. Mengidentifikasi diri dengan satu kumpulan, tak berarti kita mengisolasi diri dari tanda liyan. Betapa naif keaslian dan kemurnian? Ini melayangkan saya ke lantai 10 kamar asrama Tekun USM, kala Azim membawakan lagu-lagu BPR. Bukan begitu Pak Dolok Lubis?
Mengapa lagu Rahmat Hanya Segenggam Setia menggambarkan lirik-lirik lagu kita tentang penderitaan, namun masih tegak di atas nilai. Meskipun ditinggalkan, lelaki itu tidak rela jika kekasihnya disakiti? Secara metafora, kebaikan itu tetap dilakukan, apa pun balasannya. Sebab, kebajikan tertinggi itu berpijak di atas keikhlasan. Klise, bukan?

 

Thursday, January 22, 2026

Hari ke-22 (Belajar Berkisah)

Mendorong anak bercerita dan menulis pengalamannya adalah cara paling jitu untuk memberikan kepercayaan pada generasi alpa untuk mengada. Maklum, mereka seringkali terpapar pada gawai yang membuatnya pasif, menjadi konsumen dari permainana.

Kita hadir untuk mendampinginya agar mereka senantiasa belajar menyusun kata untuk meraih makna. Kita setara. Dengan demikian, mereka berani bersuara. Mereka belajar melihat dunia dari caranya melihat. Ini akan mengajarinya untuk berpikir sendiri. 

Sehari sebelum outing class, Zumi sangat senang alang-kepalang. Ia duduk sederet di bus dengan Ruzbihan dan begitu menikmati perjalanan, yang direkam oleh ibu dari salah seorang temannya. 

Wednesday, January 21, 2026

Hari Ke-21 (Wedang Uwuh)

Tubuh bisa rubuh karena cuaca dan minuman uwuh menjadikannya kukuh. Kita tentu tahu bagaimana badan bekerja, yang disangga dengan stamina karena menjaga pola makan, minum, olah raga, tidur dan kelola tekanan atau stres.
Saya tidak sedang mendisiplikan tubuh sebagaimana kritik Foucaldian yang tunduk pada kekuatan luar. Saya hanya ingin sehat sehingga jiwa ini tidak sekarat. Betapa tak nyaman masuk angin, sehingga saya tak bisa makan angin. Anda?

Mengapa sampah (Jw: uwuh) digunakan untuk sesuatu yang menyenangkan? Minuman yang mencampur pelbagai rempah-rempah, seperti jahe, serai, kayu manis, cengkeh, daun pala atau buah pala, daun cengkeh, dan daun kayu manis, dikatakan bisa meringankan flu, melancarkan peredaran darah, mengatasi sembelit, dan banyak khasiat yang lain.


Tuesday, January 20, 2026

Hari ke-20 (Dale Carnegie)

Buku populer dibaca oleh banyak orang. Malah cetakan versi terjemahan telah mececah angka 17. Untuk menjadi pribadi yang memiliki 3 pesona itu, ia cukup mengasah 5 keterampilan. 

Pada halaman 129, jangan lupa memberi tip bartender atau pramusaji $1 karena mereka hidup dari pemberian ini. Kalau kita yang tinggal di Paiton cukup mengulurkan Rp 1000 -2000 untuk pengatur pertigaan jalan arteri. 

Tentu, kita bisa belajar pada jemaah masjid Raudhatul Ulum, Dusun Kebun. Banyak orang tua yang mengajarkan anaknya untuk berderma. Mereka meminta buah hati untuk memasukkan uang kertas ke kotak amal.sebekum mengikuti khotbah. 

Ide besar tentang kesejahteraan universal itu bermula dari tindakan di tempat kita bermastautin. Filantropi akhirnya dilihat bukan sekadar amal ikhlas, tetapi kerja cerdas. Seluruh pihak menjadikan ini untuk menjadi tanggung jawab publik.

 

Monday, January 19, 2026

Hari ke-19 (Renungan Isra Mikraj)

Apa yang tersisa dari perayaan hari besar Isra Mikraj? Ia bisa menjadi arena persaingan dan perebutan makna. Di Iran, warga menyebutnya hari Bi'tsah. Tentu, mereka menghadirkan cita rasa berbeda dengan warga di Indonesia dan Malaysia. Namun, kita tak hendak mengulik mozaik ini sebagai titik pembedaan, tetapi pertemuan. 

Kita juga tak berhasrat untuk  memanjangkan debat tentang tafsir ketubuhan atau kejiwaan Nabi kala melesat ke langit, sebab pesan tersirat itu ingin diwujudkan di bumi. Kala kita peduli dgn manusia tanpa batas, itulah risalah yang mau disebar oleh ayah Fatimah. 

Kalimat ya jaddal husaini dalam pujian terucap mengkanalisasi gelegak untuk menerima tragedi sebagai peristiwa masa lalu. Transendensi dan imenensi, sakral dan profan, justru menghalangi pengertian yang utuh tentang sejarah kelam manusia tentang perebutan kekuasaan. 

Hanya dalam diam, keterbatasan kita berusaha mengjangkau keluasan tak bertepi. Budi pekerti yang akan merealisasikan bukti, bahwa menjadi baik itu cukup dalam hidup.

Sunday, January 18, 2026

Anwar dan Kawan

Sempat mengunjungi sahabat lama saya yang juga mantan Perdana Menteri Afghanistan Gulbuddin Hekmatyar yang saat ini sedang menjalani perawatan medis di Malaysia. Berdoa agar diberikan kesembuhan dan kesehatan yang berkelanjutan, disamping itu dimudahkan segala urusan medisnya. Insya-Allah, tulis Pak Anwar Ibrahim di beranda akun media sosialnya.

Sosok pejuang ini melalui hidup yang rumit, dari sekutu Amerika hingga menjadi musuh sengit, dan malah pernah terlibat dalam perang saudara sebelum akhirnya memasuki gelanggang politik resmi yang rapuh. Ia menjadi bagian dari puluhan tahun sejarah modern Afghanistan, yang kini berada di bawah kekuasaan Taliban.

Ini juga mengingatkan kawan baik saya asal Afganistan yang telah mengantongi kewarganegaraan Amerika. Dulu kami sering bareng di sela-sela mengabdi di Universitas Utara Malaysia. Orang Melayu menyewakan rumahnya untuk tempat tinggalnya di Changlun. Mengapa kawasan Asia Tengah ini bergolak? Karena kuasa besar berebut mainan. Khalas
 

Hari ke-18 (Haul Masyayikh ke-77 Nurul Jadid)

Saya datang 20 menit sebelum acara bermula pukul 8 pagi. Sambil menunggu, saya menikmati hadrah. Inilah seni yang paling akrab dengan masa kecil kami. Apa pun acara, terbang, sebutan rebana di negeri jiran, akan ditabuh. 

Mengapa indah? Ini soal penghayatan dan pengetahuan. Buyut kami, Abdurrahman dan Abdurrahim, penabuh yang legendaris. Kecepatan tangan memukul kulit bundar justru memaksa kami untuk diam, berdiri dengan penuh khidmat. Kediaman di tengah "kebisingan" adalah tantangan.

Berbeda dgn Banjari Basyirun Nabi, ala Ahmad bin Ta'lab jauh lebih sederhana dalam bunyi dan kata. Zaman berubah. Mungkin, di masa depan alat lain muncul, spt aud, gitar bunting, akan mengiringi hadrah kita. Atau, biarkan saja rebana itu hadir dgn dirinya agar keaslian tak terganggu oleh rasa tidak puas manusia yang ingin menambah suara di sana sini. Padahal, kala fana, kata dan bunyi hilang.

Saturday, January 17, 2026

Hari ke-17 (Stan Buku KKPS)

Kami memgunjungi stan Kelompok Kajian Pojok Surau KKPS di pekan harlah Pondok Pesantren Nurul Jadid ke-77. Di sini, Biyya memilih bacaannya sendiri. Zumi masih belum tergerak, sebab kesukaannya tidak tersedia di sini, seperti Plants vs Zombies dan FGTeev

Penyuka lagu P Ramlee  ini membeli Polemik Sains: Sebuah Dirkursus Pemikiran. Buku yang diterbitkan Diva Press ini membuat tulisan Taufiqurrahman yang diapresiasi oleh Catatan Dahlan Iskan karena rujukannya yang berlimpah. 

Saya menikmati musik yang diputar Sandi dan kawan-kawan, pegiat KKPS. Kami berjaga 24 jam  di sini, kata santri asal Jakarta ini. Ngeri! Mereka adalah orang muda yang bisa menahan mata untuk tidak terpejam. Sekali-kali penerus generasi melawan waktu. 

 

Hari ke-17 (Gili Genting)

Kala memasang kaus kaki, saya menyapa mahasiswa di depan saya? Prodi apa? PBA (Pendidikan Bahasa Arab). Oh, bapak teman Paman Yahya? 

Setelah sebelumnya kenal dengan anaknya, yang mengambil Living Qur'an, kini keponakannya bertemu di musala kampus atas kehendak Tuhan. Alvin mondok di wilayah al-Amiri. 

Alhamdulillah, semakin banyak mahasiswa asal Gili Genting yang belajar di Universitas Nurul Jadid - UNUJA. Saya pun menukas, insyaallah, di lebaran nanti, saya dan keluarga melawat keluarga kakek Biyya dan Zumi di Pulau yang terkenal dengan pantainya yang molek, Sembilan, di hari lebaran yang akan datang. Hore!

 

Friday, January 16, 2026

Hari ke-16 (Isra Mikraj)

Guyub itu hidup. Berkah untuk kita semua. Setiap keluarga membawa makanan untuk disajikan seusai perayaan. Bersama itu bermakna karena kegiatan kerohanian (langit) tertanggungkan dengan kejasmanian. Klise, tetapi inilah yang kita jalani dalam keseharian.

Selaksa doa dan pujian dilantunkan. Kala berdiri, kami menghormati junjungan, seakan-akan baginda hadir. Nabi bersama umat tanpa dibeda-bedakan kelas, status, dan kedudukan. Kala duduk, semua duduk, ketika berdiri, setiap orang beranjak dari lantai dan meluruskan tubuh. Anak-anak berlarian ke sana kemari. Biarkan, mereka memang begitu. 

Kami bertukar makanan yang dibeli dari tetangga. Hidup bermula dari sini, sebelum pergi juah mengurus negeri. Autentisitas adalah apa yang dijalani di tempat kita tinggal dengan utuh. 


.

Thursday, January 15, 2026

Hari ke-15


 Setelah mengelilingi kampung dan membuka portal, saya bersiduduk mendengar ceramah Ustaz Tile melalui radio. Dialek Betawinya mengingatkan kita pada Zainuddin MZ. 

Menua adalah mengurus jiwa. Dalam komentar ini, kita akan memulakan bacaan dengan uraian tentang taubat. Ya, puncak hasrat mengubah bertolak dari diri sebelum beranjak ke luar, termasuk orang paling dekat. 

ايها العبد، اطلب التوبة من الله في كل وقت (ص. ٥)

Saya pikir khalayak hanya perlu mendengar ceramah dan mengaji fikih melalui ustaz yang bisa dengan mudah mencerap ilmu sambil diselitkan humor. Sementara kajian fikih yang serius dipanggul oleh segelintir. 

Hukum Islam mudah, jangan dimudah-mudahkan, kata Ustaz. Mengapa harus mengganti puasa, bukan salat bagi perempuan yang berhalangan? Bayangkan mengqada sembayang 35 kali? 

Apa pun, salat mengajar warga untuk berdisiplin waktu. Itulah mengapa Allah pernah bersumpah atas nama masa (Al-'Ashr). Ehm, apa itu waktu (time)?

Wednesday, January 14, 2026

Hari ke-14

Biyya minta berhenti di kafe Point sepulang dari sekolah. Saya duduk seraya melanjutkan bacaan tanpa memesan kopi. Pagi dan siang saya sudah menikmatinya. Menahan diri adalah wujud dari keterbatasan tubuh yang menua, yaitu awas pada gula. 

Biasanya kami mereguk minuman sejuta umat ini di Rooster tak jauh dari tempat kami duduk kala mengantar Zumi yang memotong rambut di kedai tak jauh dari R. 

Percakapan seringkali tak disangka-sangka, karena ia bisa muncul begitu saja, dari hal keseharian dan politik. Tetapi hidup tidak serumit pikiran para cerdik pandai, tetapi perbincangan ringan, yang hakikatnya puncak dari pengetahuan, yakni praktis. 

Hari ke-13

Saya dan Biyya keluar dengan wajah riang. Dompet yang tertinggal pas berbelanja di pagi hari disimpan oleh mbak penjaga Alfamart. Betapa kejujuran yang layak yang dihargai. 

Sebelumnya, Biyya mengirim pesan, apa Ayah menyimpan dompet saya? Tidak. Oh, mungkin tertinggal di kasir. Lalu, kami pun mengeceknya dan alhamdulillah, ternyata ada orang yang amanah. 

Sebenarnya, mbaknya berujar agar uangnya dihitung kembali. Namun Biyya percaya. Terima kasih. 

Monday, January 12, 2026

Hari ke-12 (Jazz Persia)


Saya mengenal Iran sejak Aliyah, kala berlangganan majalah Al-Quds dari Kedutaan Besarnya di Jakarta. Malah teman saya meletakkan gambar Ayatullah Ruhullah Khomeini di dinding pondok kala itu. Tulisan pertama opini saya di Jawa Pos terkait dengan pelarangan musik Barat oleh Ahmadinejad karena dianggap menjadi biang kemerosotan moral masyarakat.  

Dari catatan ini, Agama, Musik, dan Politik, saya mengingat kembali lagi rujukan yang didapat dari Perpustakaan Hamzah Sendut Universiti Sains Malaysia dan percakapan dengan rekan-rekan Iran yang juga sedang belajar di USM, seperti Namatollah Azadmanesh (Syiah) dan Muhsin (Sunni) yang berdarah Rusia. Mereka kaum terpelajar yang memiliki sikap sendiri tentang politik. 

Untuk kesekian kalinya, negeri Persia bergolak. Amerika dan Israel selalu bermain dalam huru-hara ini, yang dipicu oleh motif ekonomi dan politik. Tentu, saya bisa memahami bahwa negeri para Mullah ini tidak tunggal. Teman saya dulu mendukung kembalinya Reza Pahlavi dan malah kala pemilu digelar di USM, Ahmadinejad tumbang. Itu artinya, tidak semua rakyat negeri Syam Tabrizy mendukung kepemimpinan ulama. 

Kini, sistem politik Wilayatuh Faqih diuji untuk kesekian kalinya. Bukan semata-mata pemusataan kekuasan pada para mullah, tetapi karena tekanan kehidupan warga dengan kenaikan harga kebutuhan pokok yang dipicu oleh sanksi Amerika dan Eropa. Apa pun, nasib bangsa ini ditentukan oleh warganya sendiri. Mereka telah mewarisi banyak tradisi dan akan menentukan pandangan dunianya sendiri. Demokrasi tidak bisa ditegakkan dengan paksaan dari luar, karena itu tidak murni sebagai wujud dari ide kesetaraan, tetapi kehendak adikekuasaan.

Dengan menikmati jazz Persia, saya hendak merenungi tempat kembali dalam hidup. Apa autentisitas itu? Keaslian itu adalah hari ini yang dijalani sepenuh hati dan akal budi. Masa lalu telah dilewati dan masa depan dikhayalkan, sementara masa ini dilalui dengan seluruh jiwa dan raga. Sepagi ini saya menikmatinya sambil tepekur mengapa kita tidak menikmati keindahan saja? Apakah tragedi itu harus ada untuk sejati?

 


Sunday, January 11, 2026

Hari ke-11 (Kitab dan Pohon)

Bila kamu memiliki taman dan perpustakaan, maka kamu mempunyai segalanya yang kamu butuhkan (Cicero, 160-43 SM). Kata ini cermin bahwa pengetahuan dan alam adalah penting untuk memenuhi kehidupan. 

Kemarin kami duduk di musala untuk memahami kitab Syarh al-Hikam (hlm. 60). Perlahan, sinar matahari pagi menghangati tubuh. Sesekali kicauan burung menyerikakn pagi. Refleksi atas kenyataan mendatangkan ketahuan dan kepahaman.

Betapa mulia manusia sehingga dianugerahkan ملكا كبيرا (kekuasaan yang besar). Di sini, humanisme mendapatkan pijakan teologis. Dari kesadaran ini, setiap individu memanggul amanah sebagai pengurus bumi yang ditagih pertanggungjawabannya.

 

Hari ke-10 (Wali Tuhan)

Terima kasih Mas Kiai Helmi Nawali atas hadiah banyak buku, yang saya awali dengan mendaras Bhinneka: Enam Belas Karangan tentang Agama, Sastra, dan Bahasa Indonesia.
Betapa Henri Chambert-Loir membantu kita untuk memahami ziarah kubur sebagai bagian dari penguatan spiritual. Dengan demikian, sisi material dari hidup tak dominan dalam keseharian yang menjadikan hidup kita majal.

Memang tidak dielakkan, pemujaan pada wali kadang berlebihan karena pelbagai motif. Bila hanya wali yang tahu wali, maka orang kebanyakan hanya mengikuti jejak kata-kata itu. 

Seorang pekerja dari tetangga kampung begitu rajin mengikuti ziarah wali. Kala memperbaiki pompa di rumah, ia seringkali menceritakan tentang kesungguhannya untuk meraih berkah. Di tengah kesibukannya bekerja, ia selalu menyempatkan untuk datang ke makam keramat. 

Friday, January 09, 2026

Hari ke-9 (Kehangatan)

Sebagaimana resolusi 2026, saya ingin merawat keseharian dengan lebih sungguh-sungguh. Meskipun membaca Martin Buber, saya melihatnya dari kegiatan yang biasa dijalani, seperti menyediakan air panas untuk Zumi dan merasakan kehangatan jiran di banyak kegiatan, seperti Sarwaan semalam.
Kehangatan bisa dipahami secara harfiah dan kiasan. Keduanya sama-sama mendatangkan kenyamanan. Kala dingin, air yang dipanaskan dan dicampur dengan air dari bawah tanah menjadikan mandi menyenangkan. Ketika bertemu seseorang yang membawakan dirinya riang dan perhatian, kita mendapatkan kehangatan, baik dari sentuhan fisik atau ucapan.
Dengan mengacu pada relasi I-It dan I Thou dalam alam pikiran Martin Buber, di hari libur saya hendak mendaras pemikir Yahudi tersebut. Meskipun ia aktif dalam gerakan Zionisme kultural, tetapi menekankan pentingnya dialog antara Yahudi dan Arab, serta menolak pandangan Zionisme yang terlalu politis atau nasionalistik semata-mata.
Dulu, saya merasakan kehangatan dosen Yahudi di UIN Sunan Kalijaga, Natalie Polzer. Pengajar asal Canada ini mengajar Kajian Yahudi dan Kristen dengan penuh semangat dan khidmat. Sebagai penganut agama yang salehah, ia menjelaskan tata cara ritual agama serumpun ini

 

Hari ke-8 (Kontemplasi)

Kamisan adalah duduk bersama seraya memuji nabi dan tawasul. Sia papun bisa memilih hari dan puji. Ini soal rasa dan asa. Imanensi, ada di bumi, hendak menuju langit, transendensi. Dari atas, kita bisa melihat dunia lebih jelas.

Salah satu UKM Universitas Nurul Jadid yang rutin bergiat adalah MATAN. Mereka melantunkan selawatan dan aktivitas kerohanian di musala dan kediaman guru spiritual. 

Di ujung minggu setelah berpikir, mereka berzikir. Kontemplasi adalah puncak tertinggi dari eksistensi. Sebagai pemerhati, saya belajar pada keistikamahan dan kerendahhatian para pejalan. Saya pun akan membersamai mereka untuk tawajjuh (تَوَجُّه) sebagai bagian dari kegiatan penyucian jiwa. Tak mudah, tetapi setiap orang akan berusaha untuk melakukanya agar hidup tertanggungkan. 

 

Wednesday, January 07, 2026

Hari ke-7

 

Dalam buku ini, Pak Nurul Huda mengutip pernyataan Pak Usman Hamid, Direktur Amnesti Internasional, "Selama bertahun-tahun masyarakat asli Papua telah mengalami rasisme dan kekerasan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Banyak di antara mereka yang ditangkap dan didakwa dengan tuduhan makar ketika terlibat dalam aksi damai (hlm. 9). 

Dengan pendekatan teologi James Cone dan Farid Esack, dialog kemanusiaan hendak menghadirkan Tuhan dalam mengembalikan manusia sebagai makhluk yang mulia dan setara. Agama membebaskan manusia dari belenggu penindasan atas nama apa pun.

Dialog ini akan menyegarkan pengalaman saya belajar ilmu Tawhid sejak Madrasah Ibtidaiyah hingga IAIN Sunan Kalijaga. Tugas akhir tentang keadilan Tuhan di S1 dulu tentu terkait dengan isu kejahatan, baik manusia maupun "alam". Kini, tentu teologi tidak dilihat sebagai urusan langit, tetapi bumi, tempat Tuhan menyampaikan firman pada Nabi-Nya. 

Dulu, di Tsanawiyah dan Aliyah Annuqayah, kami belajar Al-Jawahirul Kalamiyah dan Al-Hushun al-Hamidiyyah sebatas mengenal sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz Tuhan. Di perguruan tinggi, kami melihatnya sebagai disiplin yang memungkin teman baik kami bertanya tentang kedudukan nabi dan filsuf dalam memanggul amanah untuk menyampaikan pesan yang didapat pada manusia. 

Dalam obrolan ringan di kegiatan Kelompok Kajian Pojok Surau KKPS, Kiai Imdad Robbani menyampaikan pada kami untuk menyoal beberapa hal yang dicetuskan dalam karya ini. Saya membayangkan Pak Mushafi Miftah sebagai pakar hukum akan melihatnya dampak teologis dari sisi praktis legal, di mana sah dan tidaknya sebuah aktivitas bila didahului dengan kesaksian pada Tuhan. 

Saya akan melihatnya bahwa panggilan jiwa (beruf) Tuhan bisa mewujud pada sikap asketis atau zuhud. Samar-samar, saya mengingat almarhum Pak Syamsuddin, dosen Sosiologi Agama IAIN Sunan Kalijaga yang pertama kali mengenalkan istilah tersebut. Agama-agama akan mudah berdialog pada dimensi spiritual dan menemukan titik temu pada kebersahajaan, di mana konflik seringkali dipicu oleh ketamakan dan kerakusan manusia. 

Rasisme hakikatnya wujud dari sikap antisains, di mana asal manusia sebenarnya tunggal (ummatan wahidah), dan alat manusia untuk merasa unggul daripada liyan demi melanggengkan kekuasaan dan kepentingan. Dari keyakinan inilah, tanpa mengabaikan asal-usul keturunan, saya membawa banyak gen dalam tubuh dan jiwa ini. Anda cukup menyebutnya manusia. Jati diri lain itu tempelan yang mudah tanggal.

Tuesday, January 06, 2026

Hari ke-6

Dalam sebuah grup Whatsapp, FAMAJA, Forum Mahasiswa Madura Jogjakarta, saya bertanya, apa resolusi 2026 Anda? Salah seorang anggota menukas, "Menurut saya tak penting. Mengapa? Karena apapun rencana kita, mudah sekali dipatahkan di tengah jalan oleh Tuhan hingga nyaris tak tersisa."

Namun, sintesisnya adalah kita masih memiliki ruang untuk menyodorkan azam dengan kehati-hatian, bukan sekadar FOMO, karena orang melakukannya kita juga turut meramaikan. Semisal, kita tetap membaca buku untuk mengurangi keterpaparan pada layar gawai. Inilah senarai karya yang hendak didaras: 1. Prinsip-Prinsip Etika oleh Haryatmoko 2. Ideologi dan Kurikulum oleh Michael W Apple, dan 3. Al-Qur'an: Kitab Sastra Terbesar oleh M Nur Kholis Setiawan
Selanjutnya, semoga di bulan Februari kami bisa mengunjungi warung kopi Jibril dan Mas Mohamed Imran Mohamed Taib juga sedang berada di Johor. Untuk hal-hal seperti ini, kami tak akan berlindung di balik takdir Tuhan, apakah itu menjadi kenyataan atau tidak.

Kinokuniya Kuala Lumpur

Setelah berfoto di depan menara kembar Petronas, kami pun pergi ke toko buku Kinokuniya yang berada di lantai 4. Tak jauh dari tempat ini, a...